Pages

Rabu, 27 Maret 2013

SEJARAH PENDIDIKAN PADA MASA YUNANI DAN ROMAWI

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Sejarah pendidikan di Yunani Pusat Yunani Kuno dengan Peradaban Tertua dan Kehidupan Kuno (Sumber : Suparman.2003.IPS Sejarah. Surakarta:Tiga Serangkai.) Yunani Kuno terletak di Eropa bagian selatan di sekitar Laut Tengah. Wilayahnya terdiri atas dua bagian, yaitu Yunani Kuno yang terletak di Semenanjung Balkan dan Yunani Kuno yang terletak di kepulauan di Laut Aegeia. Di sebelah utara, Yunani Kuno berbatasan dengan Macedonia. Tanahnya bergunung-gunung tidak subur, pantainya berupa teluk-teluk yang menjorok jauh ke daratan sehingga cocok untuk pelabuhan. Laut bagian timur terdiri atas ratusan pulau kecil (Kepulauan Aegeia) yang berhubungan dengan Pantai Asia Barat (Turki). Kepulauan ini berfungsi sebagai jembatan alam. Iklimnya subtropis dengan musim panas yang lama dan kering, sedangkan musin dinginnya sejuk, singkat dan banyak hujan. Daerah lereng pegunungan menghasilkan anggur, sedangkan di lembah-lembah yang rendah menghasilkan gandum. Karena tanahnya yang kurang subur, penduduknya lebih mengandalkan hidupnya dari kegiatan di laut dan berdagang. Apalagi wilayah Yunani Kuno yang merupakan kepulauan sehingga kehidupan penduduk banyak bertumpu pada sumber daya laut. Mereka menguasai pelayaran di Laut Tengah dan membentuk koloni di berbagai pulau sambil mengembangkan kebudayaan Yunani. Dengan cara tersebut kebudayaan Yunani menyebar ke mana-mana. Pendidikan adalah usaha manusia untuk kepentingan manusia. Jadi pada saat manusia itu ada dan masih ada, pendidikan itu telah dan masih ada pula. Pada kenyataannya dapat kita telaah bahwa praktek pendidikan dari zaman ke zaman mempunyai garis persamaan. Garis persamaan atau benang merah pendidikan itu ialah: a) Pendidikan adalah bagian dari kebudayaan yang tidak dapat dipisahkan. b) Pendidikan merupakan kegiatan yang bersifar universal. c) Praktek pelaksanaan pendidikan memiliki segi-segi yang umum sekaligus memiliki keunikan (ke-khasan) berkaitan dengan pandangan hidup masing-masing bangsa. Yunani kuno terbagi menjadi dua, Sparta dan Athena. Penduduk Sparta disebut bangsa Doria, sedangkan penduduk Athena disebut bangsa Lonia. Kedua negara tersebut merupakan Polis atau negara kota. Sparta dengan ahli negaranya Lycurgus, sedang Athena dengan ahli negaranya Solon. Pada kedua negara tersebut terdapat perbedaan-perbedaan dalam dasar, tujuan, pelaksanaan pendidikan dan pengajaran. Orang-orang Sparta mementingkan pembentukan jiwa patriotik yang kuat dan gagah berani (Djumhur, 1976:24). 2.1.1 Sparta Sparta adalah negara aristokrasi- militeristis. Dasarnya undang- undang Lycurgus. Ciri-ciri pendidikannya: pendidikan diselenggarakan oleh Negara dan hanya untuk warga negara merdeka. Pendidikan di Sparta didasarkan atas dua asas yaitu anak adalah milik Negara dan tujuan pendidikan adalah membentuk serdadu-serdadu pembela negara serta warga Negara.Tujuan pendidikan Sparta adalah membentuk warga negara yang siap membela negara (membentuk tentara yang gagah berani) sehingga ciri-ciri pendidikannya adalah: 1) Pendidikan diperuntukan untuk warga Negara yang merdeka bukan budak Lebih mengutamakan pendidikan jasmani 2) Anak-anak yang telah mencapai umur 7 tahun di asramakan. Pelaksanaan pendidikan: anak-anak dibiasakan menahan lapar, tidur diatas bantal rumput, dan pada musim dingin hanya memakai mantel biasa saja. Sifat-sifat yang selalu mendapat perhatian adalah sifat-sifat yang dimiliki para tentara seperti, keberanian, ketangkasan , kekuatan, cinta tanah air, dan tunduk pada disiplin. Pelajaran seperti kesenian dianggap tidak terlalu penting dan diabaikan. 2.1.2 Athena Athena adalah negara demokrasi. Dasar yang dipakai adalah Undang-Undang Solon. Tujuan pendidikan di Athena adalah membentuk warga Negara dengan jalan pembentukan jasmani dan rokhani yang harmonis (selaras). Ciri-ciri pendidikan di Athena adalah: 1. Pendidikan di selenggarakan oleh keluarga dan sekolah 2. Sekolah diperuntukan oleh seluruh waga Negara (bebas) Materi atau bahan pelajaran terbagi atas dua bagian yaitu gymnastis dan muzis. Gymnastis untuk pembentukan jasmani sedangkan muzis untuk pembentukan rohani. Pendidikan jasmani diberikan di Palestra, tempat bergulat, lempar cakram,melompat, lempar lembing. Pembentukan muzis meliputi: membaca, menulis, berhitung, nyanyian, dan music. Dalam perkembangannya muzis akan dipelajari artes liberals atau “seni bebas” yang terdiri dari: 1) Trivium (tiga ajaran), yaitu: grammatica, rhetorica (pidato), dan dialektika yaitu ilmu mengenai cara berpikir secara logis dan bertukar pikiran secara ilmiah. 2) Quadrivium (empat ajaran), meliputi: aritmethica (berhitung), astronomia (ilmu bintang), geometria (ilmu bumi alam dan falak), musika. Dalam membaca di berikan dengan metode mengeja (sintetis murni), dan menulis dilakukan pada batu tulis yang dibuat dari lilin (djumhur: 1976). Pendidikan warga negara sangat di utamakan di Yunani terutama di Sparta. Segala kepentingan Negara diletakan diatas kepentingan individu. Dalam perkembangannya muncul keinginan untuk mendapat kebebasan individual, terutama dari kaaum sofist. Kaum sofist adalah kelompok orang yang tidak mengakui kebenaran mutlak. Mereka berpendapat bahwa manusia adalah ukuran segala sesuatu. Sesuatu kan dianggap benar apabila menimbulkan keuntungan atau kemenangan. Kebenaran bersifat relative. Akibat dari adanya sofisme itu adalah turunnya nilai-nilai kebudayaan, merosotnya nilai-nilai kejiwaan, pembentukan harmonis antara jiwa dan raga dikesampingkan. Orang mencari pengetahuan hanya untuk tujuan kebendaan semata (intelektual-materialistis). Kepentingan Negara harus tunduk pada kepentingan perorangan. Pendidikan kecerdasan lebih penting daripada pendidikan keagamaan dan kesusilaan. 2.2 Sejarah pendidikan di Romawi Peradaban Romawi kuno didirikan di pantai barat semenanjung Italia di abad ke-8 SM. Awalnya, peradaban Romawi adalah sebuah komunitas pertanian kecil di tepi sungai Tiber. Seiring berjalannya waktu, komunitas ini tumbuh menjadi salah satu kekaisaran paling kuat di dunia. Meskipun terkonsentrasi di daerah Euro-Afrika di sekitar Laut Mediterania, wilayah kekaisaran ini membentang hingga Iran di timur dan Inggris di utara.Seiring waktu, pemerintahan Romawi berubah dari monarki ke republik dan kemudian ke bentuk kekaisaran otokratis. Pendidikan Romawi sebagian besar dipengaruhi oleh praktik pendidikan Yunani. Pendidikan pada masa awal Romawi terbatas pada penanaman pengetahuan sosial yang diperlukan agar anak-anak menjadi warga teladan.Pembentukan Republik Romawi pada abad ke-4 SM memunculkan ludi, yang setara dengan sekolah bermain. Pendidikan semakin mendapat peran penting selama Republik Romawi akhir dan Kekaisaran Romawi. Pendidikan fisik dan moral umumnya dimulai di rumah di bawah pengawasan ketat orang tua. Pendidikan dasar terdiri dari hukum Romawi, sejarah, dan kebiasaan sosial yang bertujuan membentuk anak menjadi warga negara yang bertanggung jawab dan taat hukum. Sebagai bagian dari pendidikan Romawi kuno, anak gadis dilatih oleh ibu mereka untuk memasak dan menenun.Anak laki-laki diajarkan berbagai teknik pertanian, latihan fisik, dan teknik bertempur oleh ayah mereka. Spurius Carvilius adalah mantan budak, merupakan orang pertama yang membuka ludi berbayar di Roma. Namun sekolah umum berbayar terlalu populer sampai kemunculan Kekaisaran Romawi. Banyak guru pertama di Roma merupakan budak Yunani yang secara tidak langsung menguatkan pengaruh Yunani pada sistem pendidikan Romawi. Sekolah jaman Romawi hanya merupakan satu ruangan yang dibagi dan dipisahkan oleh tirai.Sekolah-sekolah dimulai saat fajar sampai senja dengan jeda pendek untuk makan siang.Murid tidak memiliki buku sehingga pelajaran harus diingat. Matematika dasar diajarkan dengan menggunakan sempoa.Ketika seorang siswa telah mahir dalam seni menulis, dia akan diberikan kertas.Sebuah pena bulu digunakan sebagai alat tulis dengan tinta terbuat dari campuran karet, jelaga, dan tinta gurita. Ludi tidak mengajarkan banyak mata pelajaran. Tujuan utama dari sekolah Romawi adalah untuk menanamkan kode moral pada siswa.Tidak ada tingkat minimum pendidikan yang diperlukan untuk mendapatkan sebuah pekerjaan.Dalam masyarakat berbasis kelas di Romawi kuno, berarti hanya kaum elit yang mampu mengenyam pendidikan tinggi.Dengan demikian, pendidikan yang dicapai oleh seorang individu lebih merupakan simbol status daripada kebutuhan sosial. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, anak perempuan umumnya tidak mendapatkan pendidikan lanjutan karena mereka harus menikah pada usia dua belas, sementara anak laki-laki hanya diperbolehkan menikah pada usia empat belas tahun.Anak laki-laki mendapat kesempatan belajar subyek khusus seperti obat-obatan, berbicara di depan umum, dan membaca karya sastra dari para sarjana sebelumnya seperti Cicero. Bangsa Romawi kuno juga mengajarkan seni berbicara di depan umum dan teknik persuasi kepada siswa remaja.Seni ini dikenal sebagai retorika. Pendidikan ini akan meningkatkan keterampilan pidato sebagai bekal menjadi politisi atau pengacara, sebuah pekerjaan elit di Romawi.Mereka juga belajar tata bahasa Yunani dan sastra bersamaan dengan musik dan astronomi.. Roma pada awalnya adalah Negara petani, mengalami dua masa yang masing- masing berbeda baik tujuan maupun alat-alat pendidikannya, yaitu jaman Romawi lama dan jaman Romawi baru (Hellenisme). 2.2.1 Jaman Romawi Lama Pendidikan pada zaman ini bertujuan untuk membentuk warga Negara yang setia dan berani, siap berkorban membela tanah airnya. Diutamakan pembentukan warga Negara yang cakap sebagai tentara. Pendidikan diselenggarakan oleh keluarga, dan merupakan pendidikan bangsawan, bukan pendidikan rakyat. Materi pelajarannya meliputi, membaca, menulis, dan berhitung. Pendidikan jasmani dan kesusilaan menjadi prioritas. Hasil pendidikan dinilai baik, karena: • Kebiasaan aturan dalam rumah tangga yang keras, ayah memiliki kekuasaan mutlak, dan anak-anak patuh terhadap perintahnya. • Kedudukan ibu hampir sama dengan kedudukan ayah, ia menjadimpemelihara rumah tangga. • Agama mempunyai pengaruh besar, orang Romawi percaya dikrlilingi oleh dewa-dewanya. • Anak-anak mempelajari Undang-Undang negaranya, menganggapnya sakti dan tidak melanggar. 2.2.2 Jaman Romawi Baru (Hellenisme) Hellenisme adalah aliran kebudayaan yang diciptakan oleh ahli-ahli filsafat Yunani (Hellas). Sejak saat itu abngsa Romawi mulai menyadari arti penting ilmu pengetahuan. Dengan demikian tujuan pendidikan mengalami perubahan: untuk pembentukan manusia yang harmonis. Pendidikan ratio dan kemanusiaan (humanitas) menjadi prioritas. Organisasi sekolah yang dibentuk meliputi: • Sekolah rendah, pelajarannya meliputi: membaca, menulis dan berhitung. Music dan menyanyi tidak mendapat perhatian. • Sekolah menengah, pelajarannya meliputi: ilmu pasti, ilmu filsafat, dan kesusasteraan klasik. • Sekolah tinggi, meliputi: diberikan keahlian pidato, hukum,dan Undang-Undang. Pendidikan mulai kehilangan sifat praktisnya dan rakyat Roma mulai berpedoman pada filsafat. Pada perkembangan selanjutnya Romawi terbawa oleh arus aliran filsafat yang berdampak cukup besar bagi pendidikan Roma yaitu, Epicurisme (dipelopori Epicurus 341-270 SM) dan aliran Stoa (dipelopori oleh Zeno 336-264 SM). Aliran Epicurisme berpendapat bahwa kebahagiaan akan terwujud manakala manusia menyatu dengan alam. Aliran Stoa berpendapat bahwa tujuan hidup adalah mencapai kebajikan. Kebajikan itu dapat terwujud apabila manusia itu dapat menyesuaikan diri dengan alamnya, karena manusia adalah bagian dari alam. Sedangkan alam itu sendiri dikuasai oleh budi Ilahi. Karena manusia bagian dari alam, maka didalamnya terkandung sebagian dari budi ilahi itu. Dengan munculnya dua faham tersebut cita-cita atau tujuan Romawi berubah dari membentuk manusia kuat, sehat untuk membela tanah air (kebajikan kepahlawanan) menjadi membentuk manusia yang bijaksana dan berakal budi (kebajikan kemanusiaan/ humanitas).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar